Minggu, 05 Juni 2011

Revolusi Pemikiran dan Rekonstruksi

INDONESIA hari ini telah menempuh babak perubahan-perubahan nasional konsolidasi dan nasional progres namun hasil yang kita capai boleh dikatakan belum bisa dibanggakan. Beragam persoalan dalam negeri sampai saat ini masih semerawut belum dapat diselesaikan secara tuntas terutama dari segi hukum, ekomomi, politik dan pendidikan masih jauh tertinggal di belakang. Ditambah lagi pemimpin-pemimpin kita suka menghambur-hamburkan uang negara dan bermewah-mewah, lengkaplah sudah penderitaan rakyat.

Keluh kesah masih lagi terdengar di seantero jagad bumi Indoesia yang memimpikan negara adil dan makmur. Mereka berteriak di sana sini memperjuangkan hak dan keadilan dan mencari jawaban masalahnya, permasalahan yang menyebabkan kemunduran rakyat Indonesia, permasalahan yang menjadikan kita bangsa yang tertinggal. Ramai orang yang mengaku pahlawan dan ramai pula yang di kambing hitamkan. Sampai detik ini kita belum menemui jalan keluar dari kemelut persoalan yang melanda. Tertinggal, ya…masih jauh ketinggalan.

Negara kita masih jauh tertinggal dalam segala lapangan kehidupan, angka kemiskinan masih tinggi, pembangunan ekonomi tidak tentu arah. Banyak anak negeri yang tidak dapat menikmati kekayaaan di negeri sendiri, mencari sesuap nasi di negeri orang. Ditambah lagi penganguran kian meningkat dan kriminalitas kian meraja lela, yang kaya semakin kaya yang miskin semakin tersiksa. Hak-hak rakyat tidak disampaikan dengan benar, pelecehan hukum semakin terasa yang begitu merendahkan harkat dan martabat bangsa Indonesia itu sendiri. Akhirnya muncul pertanyaan:

Siapa yang harus dipersalahkan?

Siapa yang harus bertanggung jawab?. Siapa.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa pokok permasalahan yang sebenarnya bukan terletak di tangan orang lain atau pun dalam genggaman kelompok tertentu melainkan di tangan kita sendiri. Oleh karna itu kita jangan takut dengan perubahan sekiranya menginginkan perubahan besar di kalangan rakyat Indonesia. Baikpun seorang pemimpin, usahawan, ilmuan dan rakyat jelata untuk berperan aktif mengambil peranan masing-masing dalam memajukan dan memperjuangkan nasib bangsa. Kesalahan-kesalahan itu terletak di dalam pemikiran dan cara hidup orang Indonesia itu sendiri, mereka lebih gemar berpura-pura. Berpura-pura pahlawan, berpura-pura membela rakyat, berpura-pura dan terus seperti itu. Kita hentikan saat ini juga kepura-puraan itu. STOP.

Kiranya perubahan itu benar-benar ingin dilaksanakan, maka perubahan itu hendaklah dimulai dengan membenci dan meninggalkan budaya-budaya kotor yang sudah bertapak hampir dalam setiap jiwa, sepeti budaya korupsi, politik adu domba, dan mementingkan kepentingan pribadi dikalangan pemimpin, kepentingan kelompok, kebiasaan-kebiasaan buruk di institusi-institusi yang banyak beredarnya uang haram, menambah susah rakyat yang memangnya sudah kesusahan. Budaya seperti ini sudah mendarah daging meskipun sulit untuk dirubah dan memerlukan pengorbanan dan waktu yang tidak sebentar tapi kita jangan berputus asa tetep terus berjuang.

Kita telah terbiasa dengan cara hidup yang buruk itu. Apabila sesuatu kaum itu telah terbiasa dengan budaya-budaya buruk di lingkungannya mereka tidak menganggap lagi perkara itu suatu keburukan karana ia telah berkembang menjadi tradisi. Walaupun dimata bangsa lain hal seperti itu perkara yang menghinakan dan begitu menjijikkan.

Kalaulah ada segelintir orang yang tulus hendak merubah tradisi yang sudah berakar seperti ini maka akan ditentang dengan hebat dituduh menyalahi sitem, menentang undang-undang dan sebaginya. Itu hanyalah alasan saja, alasan orang-orang yang mempunyai kepentingan. Biasanya mereka yang menentang terhadap perubahan yang sudah jelas-jelas mengarahkan kepada kemajuan bangsa dan kemakmuran, orang-orang yang merasa kepentingan pribadinya terancam. Mereka memperalatkan rakyat, mengatasnamakan rakyat demi mejaga kepentiang-kepentingan tersebut. Sebagian rakyat yang bodoh mudah menerima hasutan, rela menjadi pahlawan kesiangan, rela mati sementara ia sendiri tidak tahu untuk apa ia mati atau mati demi membela kepentingan segelintir orang. Sungguh hina, dan merugi. Terkadang tidak segan-segan kita bentrok sesama sediri, saling bunuh, saling caci. Sebagaimana pepatah kuno mungkin ada benarnya “orang makan nangka kita yang kena getahnya”.

Jadilah rakyat yang berpikran waras atau setidaknya sedikit lebih waras. Kemajuan itu tidak dapat dicapai hanya dengan demontrasi dan melakukan kekerasan dan saling bertengkar. Seribu kali sehari kita melakukan demontrasi belum tentu kita akan mendapatkan perubahan seperti yang kita harapkan tanpa adanya kesadaran yang mendasar di setiap lapisan masyarakat untuk berubah. Kalau kita mau belajar dari negara-negara maju sekarang ini, dulunya mereka selalu mencoba melakukan perubahan-perubahan. Tidaklah berlebihan kalau saya mengatakan bahwa kemajuan itu akan dapat dicapai dengan malakukan banyak perubahan.

Undang-undang bukanlah kitab keramat, tidaklah berdosa jika dirubah atau disesuaikan bila ia sudah tidak laku lagi dengan tuntutan zaman kenapa tidak diganti dengan yang lebih baik. Cara-cara baru yang lebih efektif. Yang lebih mendukung dan mengarah ke arah perubahan dan pencerahan. Jika memang rumusan-rumusan Negara yang ada saat ini jitu dan ampuh mustahil bangsa kita mengalami kerisis dari segala aspek kehidupan. Krisis moral, krisi material dan yang lebih menyedihkan lagi krisis malu dikalangan pemimpin kita.

Oleh karna itu jika ada orang yang membawa agenda prubahan postif yang akan membawa kemajuan rakyat jangan takut dukunglah, semangatilah dan perjuangkanlah. Demi masa depanmu, masa depan negaramu, masa depan anak cucumu nanti.

Dan satu lagi yang perlu diingatkan kepada seluruh rakyat Indonesia tertuama sekali mahasiswa, jangan mudah terprovokasi oleh golongan-golongan yang tidak bertanggung jawab, bernafsu kotor dan pengecut. Yang tidak ada kejelasan arah dan tujuan perjuangannya. Mereka hanya berpura-pura menjadi pahlawan tapi sebenarnya pecundang. Seandainya kita selalu mendukung kezaliman maka jangan bermimpi untuk terlepas dari cengkeraman pemimpin yang zalim, pemimpin yang hanya tahu menindas rakyatnya. Jadilah rakyat yang yang tidak buta bisa memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Mana pemimpin yang benar-benar ikhlas dalam memperjuangkan nasib rakyat kepada keadaan yang lebih baik. Itulah yang harus didukung, Dari sini jelaslah perubahan yang sebenarnya ada ditangan kita masing-masing.

“Membenci setiap kezaliman mencintai kebenaran dan keadilan dari siapapun dan di manapun ia berada”.

Seperti itulah rakyat yang bijak. Bukan yang taat pajak saja.

Kita sudah mual dan pingin muntah, mendengar hinaan yang di tujukan kepada negara kita di media-media, surat kabar dan isu-isu yang tidak bertanggungjawab lainnya. Terutama sekali pandangan sinis dunia Internasional, yang mengatakan Indonesia bermacam-macam pelabelan; bangsa paling jago korupsi, bangsa pembantu rumah tangga, banggsa yang mundur, bangsa yang ketinggalan, bangsa yangmiskin, bangsa pengekspor kuli dan banyak lagi singgungan-singgungan membuat sakit telingga yang mendengarnya.

Di luar Negeri orang Indonesia malu mengaku ‘orang Indonesia’ karna kata “Indonesia” itu sendiri tidak ada yang ingin dibanggakan, yang bisa membangkitkan persaan percaya diri sebagai rakyat Indonesia.

Kita tidak bisa menyalahkan orang lain, karna apa yang mereka katakan berdasarkan apa yang mereka lihat dan dengar. Yang terpenting sekarang ini untuk kita mulai berbenah dan menyadari kelemahan-kelemahan. Kita satukan pandangan dan cita-cita demi untuk kemajuan bangsa. Dan kita harus berani berkorban baik kepentingan pribadi, kelompok, partai, suku, golongan demi kepentingan bersama, “meninggikan harkat dan martabat bangsa”.

Jangan takut berkorban, pengorbanan kita hari ini adalah aset kekayaan yang sebenarnya yang akan dikenang dan ditulis dengan tinta emas, menjadi kebanggaan generasi kesekian abadnya, akan disanjung tinggi oleh orang-orang yang bijak. Jika hasrat ini telah bertaut dalam setiap pemimpin dan segenap lapisan rakyat bangsa kita maka perubahan yang besar bukanlah mustahil terjadi.

Perlu kita renungkan pemimimpin yang agung itu lahir dari rakyat yang agung dan pemimpin yang zalimpun lahir dari rakyatnya yang zalim. Pemimpin itu tidak akan lahir jika yang dipimpin tidak merestuinya. Jika lahir pemimpin-pemimpin yang suka merampok yang dipertanyakan rakyatnya. Jika ada pemimpin yang zalim yang dipertanyakan kenapa rakyat mengkatnya jadi pemimpin.

Meskipun kita sadar akan perkembangan yang berlaku di sekeliling kita terutama usaha-usaha yang dilakukan oleh setengah golongan untuk mempercepatkan kehancuran bangsa ini. Kita harus menghadapinya dengan segenap kemampuan yang kita miliki. Setiap rakyat harus bersatu memainkan peranan masing-masing yang jelas tekad dan tujuan kita sama. Terus berjuang, perjuangan ini bukan saja perjuangan yang menentukan maju atau mundur, malah suatu perjuangan hidup atau matinya suatu bangsa. Inilah yang perlu disadari oleh seluruh rakyat Indonesia.

Lalu ada apa dengan bangasa ini?.

Meskipun kita telah berabad-abad lamanya hidup dalam penjajahan tapi tidak semestinya jiwa dan pemikiran kita dijajah terus-menerus. Kita sudah merdeka, penjajahan telah lama berlalu ambillah mamfaat darinya tinggalkan pemikiran-pemikiran dan ideologi-ideologi mereka yang tidak sesuai lagi untuk kemajuan bangsa kita saat ini. Kita sudah merdeka. Merdeka…!

Jumat, 20 Mei 2011

STRATEGI MEMBACA EFEKTIF


Strategi membaca efektif

Iqro’ (bacalah). Membaca bukan sebatas menukar hurup menjadi bunyi atau hanya sekedar merangkai ayat menjadi kata melainkan proses komunikasi antara penulis dan pembaca. Dengan demikian pengetahuan dapat dipindahkan. Strategi membaca merupakan disiflin pengetahuan penting untuk difahami. Para pengkaji menghubungkan proses membaca dengan berpikir, kedua-dua perkara ini tidak dapat dipisahkan. Kebanyakan pembaca mempunyai kemampuan membaca teks tetapi gagal untuk menangkap maksud yang disampaikan penulis.

Definisi membaca dimaksudkan untuk memperoleh tafsiran yang bermakna dari lambang-lambang bertulis. Smith & Johnson (1980) menegaskan, pembaca yang berkesan ialah wujudnya interaksi antara pembaca dengan mesej yang disampaikan penulis. Pembaca memerlukan tiga aspek penting bagi tujuan memperoleh interaksi dengan teks:

1. Mebuat jangkaan.

2. Mengaktifkan daya fikir.

3. Memahami teks dalam tulisan.

4. Menganalisis teks bagi memahmi maksud tulisan.

Membaca bukan hanya memahmi makna ayat tetapi menghadirkan maksud yang ditulis oleh penulis. Dimulai dengan mengenal pasti perkataan dengan isyarat yang berbagai seperti konteks, analogi, sintaksis, semantic, bentuk hurup, tanda baca dan format tulisan. Perkara ini terkadang tidak begitu diperhatikan oleh sipembaca. Sebagaimana dikatakan Chomsky, pembaca yang baik dapat mengenal struktur gramatis dalam bahasa dengan itu wujud pemahaman teks yang dibaca.Kemahiran membaca yang baik iaitu memiliki kemampuan mengenal dan memahami perkataan, pengetahuan perbendaharaan kata serta kelancaran dalam membuat penafsiran ayat-ayat ketika membaca. Kurangnya pemahaman terhadap makna ayat-ayat dan maksud perkataan dapat mengurangkan kefahaman pembaca. Oleh karena itu ditekankan kepada pembaca keupyaan umum terhadap pengertian kalimat. Apabila banyak perkataan yang tidak diketahui maknanya ia dapat menyukarkan pemahaman terutama sekali ayat yang mempunyai maksud yang berbagai. Pembaca yang berkesan mempuyai ciri-ciri:

1. Peran aktif, menilai secara luaran perkara yang dibaca.

2. Partisipasi , memahami dengan jelas isi bacaan.

3. Mesintesis, membentuk imej atau ide-ide ketika memaca.

4. Membuat keputusan, mengaitkan isi bacaan dengan pengalaman atau pengetahuan yang ada sehingga membentuk kesimpulan pemahaman.

Beberapa persoalan sering timbul terhadap pembaca, antaranya berkaitan dengan kefahaman sipembaca dengan isi bacaan. Kefahaman ini berkait erat dengan pengalaman atau keluasan pengetahuan seorang pembaca. Pembaca yang baik dapat menyatakan semula kandungan teks yang dibaca dengan jelas baik secara lisan atau tulisan. Untuk mengingat semula kandungan teks. Dalam hal ini maka ia merujuk kepada sejauh mana strategi yang digunakan pembaca ketika membaca bagi mengingat kandungan teks.

Teknik-teknik membaca

Konsep teknik membaca berkaitan dengan cara yang dilakukan oleh seorang pembaca ketika membaca untuk memahami bacaan. Adapun teknik-teknik tersebut meliputi;

Top-down model (model atas ke bawah). Goodman (1967, 1970) memfokuskan peranan pembaca dan bacaannya liner tetapi bergerak dari atas ke bawah. Teknik ini menekankan membaca dengan menggunakan pengertian bahasa bagi meramalkan teks dan mengurangkan kebergantungan pada cetakan teks dan bunyi bahasa. Pembaca digalakan membuat hipotesis kemudian membetulkannya dengan pemahaman yang disimpulakan dari isi bacaan. Menurut teknik ini:

1. peranan utama pembaca adalah mengawal keseluruhan informasi bacaan merujuk kepada pemahaman dan membuat kesimpulan bacaan.

2. Pembaca ditekankan banyak menggunakan pengetahuan yang ada dalam memahmi penjelasan teks.

Teknik membaca cara seperti ini lebih menekankan aspek-aspek berikut:

a) Pembaca sewaktu membaca teks dipandukan oleh makna sebelum mebuat kesimpulan.

b) Pembaca membuat kesimpulan setiap akhir paragraph persoalan.

c) Pembaca menjabar makna daripada teks bacaan bukan terkeluar dari teks bacaan.

c) Pembaca dianjurkan memahami tata bahasa dan makna kalimat lebih luas.

e) Mendekatkan pemahaman terdahulu dengan pembasan bacaan.

f) Memberikan idea-idea terhadap gugusan bacaan.

Bottom-up model (teknik bawah ke atas). Gough (1972,1985) menggariskan, peroses memabaca bergerak secara liner, iaitu dimulai dengan mebaca hurup, membuat kode pada tahap fonem, menagkap perkataan-perkataan dan akhirnya hubungan sintaksis dan semantik. Informasi yang baru diterima sebelum ditrasformasikan dalam pemahaman pembaca membuat pemahaman lebih dulu terhadap ayat, hurup, perkataan, frasa, klausa dan kalimat tulisan bagi mendapat makna teks. Berdasarkan teknik ini pembaca mulai dari unit terkecil sperti:

1. Mengenal hurup.

2. Memahami perkataan.

3. Memahami kalimat.

4 . Mencari makna yang tersirat dan tersurat dari kalimat.

Teknik interaktif. Model ini menurut pakar bahasa lebih perpengaruh dibandingkan model pertama dan kedua. Menurut Rumelhart, membaca adalah proses perseptual dan kognitif. Pembaca yang berkesan hendaklah mengguna informasi deria, semantic, pragmatic dan sumber inforamsi yang berbagai dari pengetahuan digunakan sewaktu membaca. Model ini menggunakan teks sebagai input dan makna sebagai output. Pembaca hendaklah ketika membaca membuat proses tanggapan dan proses kognitif ke atas teks bacaan.

Kesimpulan

Berdasarkan uraian berkaitan teks dan pembaca dapat dirumuskan ciri pemaca yang berkesan sbagi berikut:

a. Mengenal makna perkataan dan maksud kalimat dengan cepat.

b. Memahami format dan bentuk tulisan serta tanda baca dengan baik.

c. Dapat mengaitkan pemahaman bacaan dengan pengetahuan yang tersedia.

d. Menganalisa perkataan yang tidak biasa dan tidak difahami.

e. Mengenal fungsi gramatik perkataan sukar.

f. Memberi rumusan terhadap makna teks.

g. Membuat penilaian yang kritis dan penjabaran yang luas.

h. Bisa mengawal kefahaman tidak hilang kontrol ketika membaca.

i. Membuat ingatan jangka panjang terhadap isi bacaan.

j. Membuat strategi bacaan supaya mudah diinggat dan diterangkan semula.

k. Memahami bagian-bagian teks dengan jelas tidak samar.

l. Membedakan idea-idea dalam bacaan.

m. Berusaha mencari penjelasan ketika mendapatkan kesamaran dalam teks.

Rabu, 18 Mei 2011

Permasalahan Kanak-kanak Prasekolah


Berkaitan dengan permasalahan kanak-kanak merupakan isu yang sangat kompleks dan beragam baik dari aspek mental, fisiologi, emosi, tingkah laku sosial dan komunikasi.

Soalan demi soalan tentang motivasi dan tingkah laku sering menjadi isu penting yang harus diselesaikan terutama mengenai proses pembelajaran kanak-kanak hal ini dapat memberi kesan baik secara langsung atau tidak langsung ke atas masa depan kanak-kanak trsebut.

sebagaimana akan dijelaskan nanti untuk kita melihat sisi-sisi penting permasalahan, kerana dengan mengetahui persoalan maka kita dapat mengawalnya.

Kita mula dari institusi pendidikan yang ada di antranya ialah wujud ketidakseragaman dan pelaksanaan kurikulum prasekolah seperti:

1. Setiap agensi mempunyai matlamat, tanggapan, orientasi, keutamaan dan kemampuan yang tersendiri serta berbeza-beza dalam penggunaan bahasa pengantar, kurikulum, latihan ikhtisas, kelayakan akademik guru, gaji guru dan penempatan pelajar.

2. Objektif pendidikan prasekolah ditentukan oleh agensi yang mengendalikan prasekolah tersebut. Beberapa kajian menunjukkan matlamat, aktiviti dan juga cara pelaksaan prasekolah di Malaysia tidak seragam antara satu sama lain.

3. Latihan guru-guru prasekolah dan pendekatan pengajaran dan pembelajran kebiasaanya ditentukan oleh agensi yang menganjurkan prasekolah tersebut. (UNESCO, 2000).

4. Semua perbelanjaan seperti gaji guru, alatan pengajaran dan pembelajaran semua dibiayai oleh kerajaan. Sementara prasekolah persendirian diambil dari yuran yang dibayar ibu bapa.

5. Daripada segi lokasi sekolah, terdapat perbezaan yang ketara prasekolah persendirian dibandar lebih menekankan pada pencapaian akademik dan perkembangan kognitif, manakala prasekolah di luar Bandar lebih menekankan perkembangan sosial dan komuniti.


Adapun mengenai permasalahan yang sering didapati pada kanak-kanak ialah sering menunjukkan ketidakstabilan psikologi, perkara ini perlu diketahui supaya dapat menjadi pengan ibu bapa dan pendidik.

Hamzah (1996) menggariskan berbarapa tingakah laku kacau bagi kanak-kanak. Istilah ‘kacau laku’ dicipta untuk mewakili pelbagai bentuk tingkah laku yang tidak sesuai, perlakuan ini juga dikenal dengan ‘kenakalan’. Di Barat tinggakah laku sperti ini dinamakan (disruptive) atau ‘tingkah laku kacau’(disturbed). Ciri-ciri tingkah laku seperti ini:

1. Tidak mahu bekerja sama. Cotohnya, degil.

2. Agresi. Cotohnya, mengganggu dan menyakiti orang lain.

3. Sentiasa mahukan perhatian. Contohnya, mengada-ada.

4. Konsetrasi buruk . contohnya, enggan mengambil bahagian dan menyendiri.

5. Ketakupyaan mental. Contohnya, lembab.


Ciri-ciri kanak-kanak kacau laku dapat dibahagikan kepada dua bahagian sederhana dan serius.

Kanak-kanak yang sederhana kacau laku:

1. Lemah dari segi pencapaian akademik.

2. Lemah dalam hubungan antara manusia.

3. Lemah dalam konsep kendiri.


Kanak-kanak yang serius kacau laku:

1. Pendiam dan enggan berbual.

2. Pertuturan yang tak bermakna dan mengajuk cakap.

3. Tingkah laku perangsangan kendiri yang berlebihan seperti sentiasa menggawang-gawang tangan.

4. Tingkah laku pemusnahan kendiri seperti menghantuk kepala.

5. Kurang kemahiran mengemas diri dan menjaga kesihatan diri.

6. Enggan melayan seperti berpura-pura pekak atau buta.

7. Enggan menjawab soalan ujian.

8. Kemahiran antara manusia yang buruk dan berhati kering kepada orang lain.

9. Terlalu agresif tanpa provokasi.

10. Suka memusnah harta sendiri dan harta orang lain.

11. Gopoh dan hiperaktif.

12. Mencari perhatian daripada rakan dan guru.

13. Mudah terganggu.


Kanak-kanak sukar belajar terdiri dari beberapa jenis diantaranya ialah pelajar pangilan pencapai bawah (underachievers), pelajar lembam, pelajar lambat, murid benak (academically difficult) dan terencat akal. Selanjutnya kanak-kanak yang bermasalah kognitif dan yang bermasalah sosioemosi juga merupakan golongan sukar belajar. Secara amnya terdapat juga kanak-kanak yang normal mengalami gangguan pembelajaran seperti ini.

Ciri kanak-kanak sukar belajar:

1. Kelemahan bahasa.

2. Kelemahan mengira.

1. Kelemahan dalam metaingatan.


Kanak-kanak yang sukar belajar juga didapati rendah dalam konsep-kendiri, harga diri dan konsep kendiri akademik. Mereka tidak mempunyai dorongan dalaman dan harapan yang tinggi kepada prestasi belajar. Dari segi intraksi sosial pula kanak-kanak sukar belajar didapati mempunyai ciri-ciri:

1. Kurang popular.

2. Disingkir dalam pergaulan.

3. Tidak begitu menarik perhatian guru dan rakan.

4. Kurang kerap berinteraksi dengan guru dan rakan.

5. Datang dari golongan kelas sosioekonomi lemah.

6. Tidak peka kepada perasaan orang lain.

7. Tidak berupaya melihat dari sudut pandangan orang lain.

8. Tidak berupaya membaca isyarat sosial seperti ekspresi muka dan utauan tangan.

9. Tidak berupaya mentafsirkan perbezaan dalam nada suara semasa mendengar perbualan.


Ciri-ciri kanak-kanak berbakat ialah kanak-kanak yang bergeliga (giftedness). Banyak ahli-ahli psikologi meneroka tentang kecemerlangan manusia atau zat keinsanan yang menjadikannya superior dari manusia lain. penerokaan ini lebih dikenal dengan ‘geliga berpusat’. Kanak-kanak yang bergeliga (gifted children) ialah kanak-kanak yang mempunyai kepintaran cemerlang. Tingkah laku ini boleh disaksikan dengan hasil kepintaran penakulan dan penggunaan konsep-konsep abstrak. Kanak-kanak yang pintar-cerdas secara amnya mempunyai:

1. Keupyaan mental am superior.

2. Bakat istimewa.

3. Pencapaian kreatif tinggi.

4. Dorongan untuk belajar dan pencapaian.



Rohani Abdullah (2003) mendefinisikan terhadap kanak-kanak cerdas, menurut beliau kecerdasan merangkumi pengetahuan, kefahaman dan penakulan. Ujian yang dicipta menyamai kerja-kerja sekolah yang merangkumi ukuran perbendaharaan kata, kefahaman fakta-fakta dan pertalian serta penakulan matematik dan bahasa. Semua ujian tersebut merupakan kaedah mengukur perbezaan individu dalam kuasa daya fikir.


catatan; refrensi dan informasi data kajian ada pada penulis.