Rabu, 24 Februari 2010

100 Puisi Anak Negeri


SUARA HATI

Hujan menderu angin mendesir

Melintasi embun dipagi hari

Harapan musna hati tersihir

Mengenang kekasih yang telah mungkir

Angin berhentilah mendesir

Kau tak kan bisa menjadi pewaris

Hatikau, semuanya hampa terusir

Kenangan hati yang teriris

Angin sediakah kau menemaniku

Berdesir bersama pagi ini

Biar kudengar nafas cinta menderu

Merajut kenangan waktu bersama hujan

Hujan kau bawa nafas cinta menderu

Telah lama bertaut disudut hati

Ribuan tahun aku berawat rindu

Membawa kembali kenangan lalu

Untuk apa aku berharap pada angin

Seperti mengusik bayang-bayang

Merenggut banyangan diujung rambut

Sekejap mata ia berlalu

Aku merenungai

Menyelam kedalam sanubari

Bertanya letak cinta sejati

Lelah sudah aku mencari-cari

Meski kukorabankan harga diri

Kesana kemari mengikuti kata hati

Hingga terkapar dialam mimpi

Kutitip kepingan hati ini

Diapun kulihat kesana-kemari

Mencari tempat labuhan hati

Mencari cintanya yang pergi

Tak perlu kesana kemari

Hati berucap merenungi

Berjalanlah menuju petunjuk Ilahi

Disanalah cinta sejati

Oleh: Ronn. M. Noor

TRAGEDI TANJUNG PERIUK

Tragedi

Tragedi…ya…tragedi

Terkenang jerit, tangisan hati

Meratap raga diatas pusara

Tertumpah darah dalam sejarah

Rakyat tak berdosa dipaksa meyerah

Angkuh senjata menepuk dada

Gegap-gebita misiu rengkuhkan nyawa

Embun pagi tak kuasa hilangkan darah

Ditumpah keras sepatu penguasa murkah

Ingar-bingar pekik menyerah

Kau tetep melotot menepuk dada

Tepuk dada tepuklah

Anyir darah keluar dari rongga dada

Nafas sesak semangat melusu

Melingkar takdirmu di ruang ICU

Ingatlah….ingatlah

Tragedi tanjung periuk

Jauh kutatap kau dipembaringan ilahi

Urat leher tak berkutik mengecut musuh-musuhmu

Nistafa kaku kau terbaring lelah

Mengenang kuasamu yang penuh murka

Penantian terasa pasrah

Iringan terdengar malaikat pencabut nyawa

Riuh terdengar nafas lega, terhenti

Kau pergi pengahadap Yang Maha Kuasa

Disana kau akan berserah

Segala perbuatanmu akan ditanya

Selamat jalan sangkestria malang

Selamat jalan

Oleh: Ronn. M. Noor

REFORMASI

Gagap suara terdengar

Mengerang beragam irama

Serak, parau berteriak dari sudut penjuru kota

Dibawah pijar matahari terang

Membakar, semangat anak negeri

Darah mengalir keubun-ubun

Tertumpah membasahi rumput hijau

Serak teriakan semakin resah terdengar

Kian lama semakin sumbang terdengar

Ada hati menangis, ada mata membenci

Ada resah ada putus asa

Menyatu dalam satu ikatan rasa

Inginkan reformasi…reformasi

Hidup reformasi

Lihat kesana

Jalan medan merdeka

Lihat kesana

Jalan semanggi

Lihatlah…lihatlah…lihat

Darah tertumpah

Merah, membanjiri air mata

Putih, luka yang terkoyak

Janji kesetiaan itu katamu

Harapan berkecai, raga terbujur kaku

Bibir bergetar belum mati

Dengar… apa pintanya

Dengar… apa ratapnya

Kami telah bosan

Kami telah lelah

Hidup dalam kekakuan

Penindasan, ketidak adilan

Gembiralah dia

Gembiralah kawan

Ibu pertiwi bangga padanya

Nyanyikan lagu IDONESIA RAYA.

Ucapkan selamat jalan pahlawan reforma

Selamat jalan aku pergi Oleh: Ronn. M. Noor

27 RAJAB SEBUAH KESAKSIAN

Hujan turun dari timur

Dengan guruh mengguntur memecah kebekuan malam

Berhembus angin mendesir

Menerpa dedaunan resah berguguran dari pepohonan sepi

Tersikap kebenaran, terlihat kesempurnaan abadi

Malaikat turun membawa karunia tuhan

Meremukan hayalan bumi dan laut

Pohon-pohon bercahaya dimana-mana

Mawar ditaman mendesir menebar wewangian

Lahir warana baru menyalah-nyalah

Petunjuk iman, petunjuk kebenaran abadi

27 rajab sebuah kesaksian

Isra’ mikaraj rasul junjungan

Dengan Ruhul amin membumbung tinggi

Dibawa sayap terbang bebas

Dalam gulungan perjalanan malam panjang

Kau mendengar lagu mengalun dilangit

Di alam sumber segala nada

Memuji kebesaran-Nya

Dari guru angkasa raya kau dengar

Hingga hatimu menyalah, menguras genangan duka

Mengeringkan air mata

Aira mata mencucur dari kalbu

Bersama petunjuk kebenaran yang kau terima

Tersemai dalam bait lima waktu

Ya …Allah ya…Robbi

Betapa agung kesempurnaan yang Kau persaksikan

Membangunkan jiwa kami dari tudur yang sepi

Dari belenggu hidup dan rantai duka hingga terpeluk bumi

Dibawah rumput liar kami akan bersemayam

Diasnya rumput kering bergelombang, akhir kehidupan

Tirai pemisah antara jiwa dan raga

27 rajab sebuah kesaksian

Kebesaran…keagungan…kemuliaan-Nya

Maha suci engkau ya.. Allah yang telah memperjalankan hambaMu

Oleh: Ronn. M. Noor

Tidak ada komentar:

Posting Komentar